Selasa, 28 Juni 2011

semangat seorang pemuda

aku pijak separuh kaki ku di atas tanahmu
dentum ultimatum kau nyalakan dengan sandi
kau pikir ini milikmu?

aku pijak separuh kaki ku lagi di atas tanahmu
seribu dusta kau kerahkan dengan kelakar
kau pikir aku bodoh?

aku pijak lagi kakiku hingga aku berdiri tegak
keringat gelisah kau rembeskan di balik jas palsu
kau pikir aku tidak tahu?

kali ini,
aku angkat gumpalan jemari merah berdarah
gemakan suara-suara pembaharuan
aku bakar semangat jiwa pemuda
lesakkan peluru-peluru kebangkitan

kali ini,
aku tegakkan kepala memandang sebilah pedang putih
yang ku asah demi hari yang masih berputar
aku hunuskan seribu pedang lagi penuh auman
yang kokoh pada genggaman berisi


aku tidak hanya akan bermain-main dengan matahari
akan ku refleksikan cahaya dari ufuk timur hingga ke barat
aku tidak hanya akan bersenda gurau dengan senjata
akan ku bakar bubuk mesiu hingga habis tak bertitik

karena kali ini,
ini milikku
aku tidak bodoh
dan aku tahu
bahwa merah putih masih dapat berkibar
dengan angin simfoni kemerdekaan hakiki

Rabu, 20 April 2011

makna dunia

kamu masih mencari tau makna dunia?
aku juga, tetapi ketakutan itu ada dan aku belum merasakannya
aku mencari yang jauh, sedangkankan kenyataan itu ada di dekatku
aku melihatnya, ia menangis membasahi bumi
ia tertawa mengotori bumi

kamu masih mencari tau makna dunia?
aku juga, tetapi kesakitan itu ada dan aku belum merasakannya
aku menghindarinya, sedangkan aku tau aku mendekatinya
aku melihatnya, ia berbicara tanpa isi
ia tertawa mengosongkan suasana

kamu masih mencari tau makna dunia?
aku juga, tetapi kebencian itu ada dan aku belum merasakannya
aku meletakkan asa di sana, sedangkan aku bisa mencapainya disini
aku melihatnya, ia mengubur impian anak-anak
ia menikmati kebahagiaan dusta

kamu masih mencari tau makna dunia?
aku tidak, aku takut, aku akan sakit, aku tak mau dibenci
aku bisa merasakan kebahagiaan
disini, ketika aku terbangun dari tidur dan masih ada yang membangukan
ketika aku jatuh dan masih ada yang mengulurkan tangan
ketika aku masih bisa meletakkan asa dan ia meletakkan asa pula
ketika kita saling menitipkan dan mengingatkan

kamu masih mencari tau makna dunia?
aku tidak, aku takut, aku akan sakit, aku tak mau dibenci
aku bisa merasakan kehihidupan
disini, ketika aku tersengal menggapai tangga dan masih ada yang membantu
ketika aku mati dan masih ada yang memberikan setengah nyawanya
ketika aku berada titik minimum dan masih ada yang memberik dorongan
ketika aku merasa tak bisa dan masih ada yang berkata bisa

teman, sahabat, kawan, sama saja.

huruf huruf pemeran sandiwara

kamu tau ini warna apa?
A bilang ini merah, tapi B bilang ini hitam
deret huruf mencerminkan kedudukan
tapi Z tidak diperhitungkan
 karena ia terbawah, karena ia selalu dijadikan alas
dan ia pun bingung dengan gerak gerik A yg berkata daun itu merah
sementara A memelihara sebuah tanaman
apakah tanaman itu terbuat dari kertas? atau plastik?
sehingga fakta pun bisa diputar balikkan
kebohongan kejujuran seperti mustahil dibuktikan
skenario ini terlanjur dibuat dan dimainkan
tipu daya membabi buta di atas kertas seorang bocah
bocah yang belum bisa membaca dan menulis
seperti ini negara kita kawan
curat coret tak bermakna yang diartikan dengan dusta
yang dianggap keadilan
persetan dengan semuanya
hancurkan tanaman itu
sebarkan benih-benih tanaman baru
jadikan tanaman kita berdaun hijau kembali

baca dan rasakan

selembar kertas biru di dompet rapi bersandar d setiap kulit sisi sisinya.
Saya berjalan berliku melewati lubang lubang kecil yg saya anggap itu besar.
Kaki terasa lemas berjalan jauh padahal Tuhan anggap itu dekat.

Gemerincing koin bernyanyi menemani kepulangan saya dr tanah orang.
Hujan jatuh seperti titik titik kecil tapi saya masih menganggap it besar.
Pundak terasa berat memikul beban padahal Tuhan anggap it ringan.

Perjalanan ini benar benar mengajarkan saya apa itu arti kata besar jauh atau berat.
Ketika ia berdiri, menangis dan berkata lirih "saya ikhlas kalau adik saya harus pergi, karena saya tw saya tidak bs membawanya k rumah sakit, tapi saat ini izinkan saya utk mengemis, saya hanya berharap saya bisa memberinya makan sampai umurnya habis, agar ia bisa pergi dgn layak"

Kawan seharusnya kalian berada d sini, apa yg akan anda lakukan.

kisah seorang istri pejuang

hidup tak bernyawa,
seperti seorang nakhoda yg kehilangan arah,
derita di sepanjang lautan biru,
membuatnya menangis membeningi biru itu,
tak ada lagi yg bergejolak,
hanya pautan hati yg tak tenang,
seperti bayang2 mentari yg melebur bersama lautan,
sudah tak sama,
hanya merahny yg bergelombang,
tak lagi muda,
hanya siratkan senyum seorang nenek tua,
senyumnya melebar beriring belati,
tergores bunga bermahkota hitam yg duduk d atas singgasana,
terkadang ingin menghiasnya dengan dendam,
namun begitu takut akan kenyataan.