menulis adalah pembelajaran yang tidak ada hentinya meskipun anda telah sampai di baris terakhir tulisan
Sabtu, 25 Mei 2013
kesederhanaan
kesederhanaan, kata-kata yang selalu terngiang di telingaku. semenjak kecil aku di ajarkan bagaimana caranya menyikapi kesederhanaan. aku telah merasakan tetes air hujan yang masuk dan merembes ke ubun-ubun. aku telah merasakan bagaimana kaki ini tergores beling-beling yang berserakan di tanah lapang. aku telah merasakan bagaimana tubuh ini lelah terhempas angin malam yang bernyanyi merdu menghasilkan simfoni kehidupan. aku telah merasakan bagaimana kulit ini legam terbakar panasnya matahari di waktu siang. peluhku mengalir bersama eluhan-eluhan anak muda zaman sekarang. tetapi kesederhanaan yang telah di bangun di hatiku membuatku bisa mmenjalaninya. aku beruntung memiliki orang tua dan keluarga yang selalu menguatkan aku ketika aku merasa lemah. hangat kasih sayang yang mereka beri sangat terasa disetiap ruang kalbu. bisa dibilang aku adalah anak manja, tetapi aku bukan anak yang suka meminta, aku tahu kapan aku bisa meminta dan kapan aku bisa memberi. semenjak aku duduk di bangku taman kanak-kanak hingga bangku perkuliahan, aku selalu di beri uang saku yang cukup. tidak berlebih dan tidak kurang. kadang aku sangat merasa bersalah ketika aku harus meminta uang lebih kepada orang tua karena uang sakuku telah habis sebelum waktunya. aku tidak pandai mengatur keuangan, tetapi sekali lagi kesederhanaan lah yang mengajarkan aku bagaimana caranya mengatur keuangan. berada di lingkungan luar mewajibakan aku untuk memilih. memilih gaya hidup, memilih teman, dan memilih hal lain yang menurutku itu adalah duniaku. teman, dia adalah orang yang juga berjasa bagiku dalam mejalani hidup. aku memiliki banyak teman dan aku selalu berusaha menjaga pertemanan itu. namun tidak semua teman dapat aku ikuti. hal ini dikarenakan kemampuanku untuk mengikuti mereka. saat ini aku berada jauh dari keluargaku. keluargaku berada di bogor sedangkan aku merantau ke tanah orang di kota bandung. di sini aku menjalani hidupku sebagai mahasiswa. terkadang aku merasa rindu pada keluargaku. aku merindukan saat-saat dimana kami saling berbagi canda di ruang tv. aku merindukan saat-saat dimana kami menghitung jumlah keroket yang dibuat oleh mamah dan dibagi berdasarkan jumlah keluarga kami. aku merindukan saat-saat dimana kami menjalankan ibadah bersama dan mengucap doa yang aku yakin bahwa kami saling mendoakan padai ritual tersebut. namun dengan adanya teman yang setia menemani, rasa rindu itu perlahan dapat terobati. disini aku memiliki keluarga baru yaitu teman-teman seperjuangan yang dikala senang dan sedih kami jalani bersama. tidak berbeda dengan keluargaku, teman-temanku juga memiliki kesederhanaan yang kadang saling kami tukar dan saling kami pelajari. terlepas dari kesederhanaan kami juga memiliki kehedonan. kehedonan yang kami miliki berbeda dengan kehedonan orang lain. kami memiliki cara sendiri bagaimana kami menghibur dan menghedonkan diri kami untuk mencicipi selah-selah kehidupan. mungkin kadang terlihat norak atau kampungan karena kami tidak begitu mengikuti mode-mode baru. tetapi kami tahu, kami tahu kapan kami bisa mengikuti dan kapan kami hanya harus sekedar mengetahui. rasa kekeluargaan kami dapat terjaga dengan kesederhanaan yang kami miliki. saat ini kami menjalani hidup sebagai mahasiswa dan belajar menjadi manusia yang sebenarnya. hujan rintik-rintik yang membasahi ubun-ubun menjadi saksi perjalanan kami. luka yang tersayat akibat beling-beling menjadi pengalaman yang dapat kami cermati. hembusan angin malam yang melemahkan tubuh menjadi pendongeng rahasia kehidupan yang belum terpecahkan. sengatan matahari yang terpancar sepanjang waktu siang menjadi semangat dan tenaga untuk berlari mencapai tujuan. peluh dan eluhan kami menjadi pelajaran bagi kami untuk belajar bersyukur bahwa kami masih diberikan hidup dan kebahagiaan olehNya. kesederhanaan, aku telah banyak belajar tentang kesederhanaan.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar